LITTLE MISS SUNSHINE

January 11th, 2008 by mijn-papilon

Ia
hampir genap berusia 7 bln. Menitipkan arti bahwa waktu itu tidak berlari lagi,
ia kini terbang!. 190 hari terlalui tanpa terasa!. Hanya jejak-jejak
pertumbuhan yg tampil di keseluruhan jiwa raga matahari kecilku yg senantiasa
meminta keterlibatan cinta dan kasih sayangku untuk mengurusnya, membentuknya
dan hingga menjadi sebentuk pohon yang buahnya manis.

Terbayang
saat-saat pertama ia melihat dunia; pengorbanan tiada tara, penuh perjuangan
tenaga dan airmata yg melebur menjadi satu. Benar kata mamaku, bahwa melahirkan
itu ada di antara hidup dan mati, hanya dibatasi oleh sehelai kain tipis; anak
dan ibu selamat, ibu meninggal atau sebaliknya. Dan, aku memilih untuk tetap
hidup agar bisa menikmati buah penantianku selama 9 bulan 5 hari.

Aku
terdiam seribu bahasa saat pertama ia mampir di pelukanku. Inikah ‘hidup’ yang
menendang dari dalam perutku?. Tatapan kami begitu lekat. Aku memperkenalkan
diriku kepadanya, dan lalu mengenggam jemarinya yang kecil rapuh, menciumi
kepalanya sampai saat aku memanggil namanya; DATU yang berarti ratu/raja. Air
mataku tergenang saat mengerti bahwa kini aku adalah seorang ibu dari seorang
bayi perempuan cantik. Aku dilingkupi kebahagian dan rasa terberkati tingkat
tinggi. Tuhan sudah menyempurnakan kodratku sebagai perempuan yg bisa
melestarikan populasi manusia.

Potongan
gambar-gambar emosional itu masih tersimpan rapi di batok kepalaku yang setiap
saat bisa aku ingat-ingat kembali sambil mendalami arti kehidupan yang telah
kuwariskan ke generasiku berikutnya dan berikutnya lagi. Mengingat itu adalah
suatu keasikan tersendiri buatku yang nantinya akan kujadikan dongeng tidur
buat anak-anakku terkasih.

“ Mama, tolong ceritakan bagaimana
saat aku lahir dulu?”. Oh.. aku tak sabar lagi untuk mendengarnya dari mulut-mulut
kecil mereka.

Walopun saat itu napas ku tinggal
satu-satu plus transfusi 4 kantong darah dan 3 hari meringkuk di rumah sakit,
puji Tuhan aku dan Datu skarang bisa saling melengkapi, saling menghibur satu
sama lain, memberikan nafas pada rumah kami hingga terasa begitu hidup oleh
kehadirannya.
Dan ia berkembang sesuai dengan doa dan harapanku. Dari
bayi merah yang tergolek tak berdaya hingga kini menjelma menjadi seorang
perempuan kecil yang mampu membuka kaos kakinya sendiri, hingga berekspresi
sesuai dorongan imajinasinya.

Ia
bisa menjadikan dirinya laiknya seorang entertainer sejati yg terhadiahi
talenta alam. Ia senantiasa dilingkupi suasana penghiburan, setiap tingkah
lakunya selalu berbuah tawa. Ia senang mengawali hari-harinya dengan senyuman.
Pagi hari saat matanya terbuka, segaris senyum sudah menghias bibirnya yg
mungil. Kerjapan matanya mengisaratkan bahwa ia  telah siap menyambut hari
dengan riang. Adakalanya ia bertingkah laiknya org dewasa; tersipu malu saat
disapa pria tampan. Bola matanya bergerak lincah, melirik dan menggoda dengan
bahasa tubuh yang sungguh belum sampai ke akal sehatku.

Ia
perempuan kecil yang cantik, setidaknya begitu kata orang-orang yg sering
dijumpainya. Kulitnya sehat sdikit kecoklat-coklatan. Alisnya hitam, bola
matanya besar dan hidup, disempurnakan lagi dengan bulu mata yg melengkung
cantik. Semua tampilan itu dicurinya dari gambar bapaknya. Dariku hanya
mewariskan sebuah hidung pesek yg kerap dihiasi ingus kering.  Apapun yg
ada padanya adalah hadiah terindah yg pernah hadir dalam hidupku, hidup kami
berdua; aku dan bapaknya. Ia adalah buah cinta kami berdua, yang semakin mengukuhkan
arti dari cinta itu sendiri. Ia adalah mukjizat!.

Ia
telah membuatku begitu jatuh cinta dengan segala pesona yang ia miliki. Aku
bahkan tak bisa melepaskan mataku dari wajahnya yg pulas terbuai mimpi, sambil
menerka-nerka apa gerangan mimpi yang bermain dalam tidurnya, dan hingga ia
menjadi bentuk kebahagiaan ku kini. Ia membuatku percaya, Tuhan sungguh adalah
seorang seniman handal dan menyadari bahwa Tuhan telah menyediakan tempat
istimewa dalam hidupku saat Ia menciptakannya. Senyuman nakalnya sanggup
meluluhlantakkan hariku yang suntuk termakan rutinitas yang membosankan. Ia
adalah matahari kecil yang menyinari halaman hatiku.

Ia
kini memiliki dua gigi kecil yang semakin membuatnya terlihat lucu dan
menggemaskan. Rambutnya sudah agak lebat dibandingkan 5 bulan lalu. Aku bahkan
sudah membelikannya beberapa jepitan dan ikat rambut yg tinggal menunggu waktu
menghiasi rambut tipis di kepalanya. Pipinya kerap bersemu merah diusap
udara  dingin. Suara-suara yg keluar dari mulutnya adalah bentuk keajaiban
yg tiada tanding. Kami sering bersatu dalam pelukan yang tanpa warna. Aku
sanggup merasakan degup jantungnya yg berlabuh di dadaku. Ia suka sekali
menghabiskan waktu tidurnya di dekapanku, mendengarkan degup jantungku sebagai
nyanyian pengantar tidur termerdu sepanjang masa. Bagiku, setiap hari dengannya
adalah anugerah yang tidak bisa dirampas orang lain dariku. Ia adalah milikku,
harta tak ternilai titipan Tuhan.

Namun
aku kadang merasa takut melihatnya bertumbuh besar dan tinggi. Perasaan asing
bahwa suatu saat ia akan meninggalkan aku dan bapaknya untuk memulai perjuangan
hidupnya sendiri. Sampai saat ia tak lagi berjarak satu sentuhan dariku.. dan bila
itu terjadi, maka aku akan melipatkan tanganku; melindunginya dengan doa..

 

Ncep mencari mimpi. Bag. 1

December 9th, 2007 by mijn-papilon

Maklumat Pemerintah:

1. Para pembaca yg budiman, silahkan menikmati kisah si Ncep. Maaf klo isinya ga se gres ‘huru-hara’ tempo hari. But klo si Ncep juga menuntut sy karna namanya saya pakai, yah bisa saja perang puputan kembali berkobar.. *smile*

2. Setelah membaca, kalo lagi mood atau tidak sdg dilanda menstruasi silahkan tinggalkan pesan, meninggalkan duit segepok itu lebih dianjurkan.

3. Diharamkan: CACI MAKI CARI DAKII!!

$. Tulisan ini saya persembahkan buat si Encep seorang.. miss u bro’

Enjoy reading.. (dan saya mau tidurrrrrr..)

***

Di
ujung sana ibu menutup telepon dengan setengah terisak. Saya tau, bila
pembicaraan tadi kami perpanjang maka dalam hitungan menit airmatanya akan
tumpah. Ibu memang paling sensitif dalam segala hal, terlebih lagi jika
menyangkut si Encep, adik bungsuku.

Ibu memberi
kabar bahwa Encep diterima di Trisakti, sebuah universitas top di Jakarta; universitas
yang setauku bakal menyedot banyak rupiah. Membayangkan rupiah yang harus bapak
dan ibu siapkan sudah membuatku gemetar. Setidaknya untuk biaya tahun pertama
100 juta rupiah harus siap di kantong plus ongkos hidup di megapolitan,
Jakarta. Belum lagi biaya praktik dan alat-alat yang tak kalah mahalnya. Arggg!!!..
lagi-lagi masalah duit, dan kesempatan!.

Kenapa
juga biaya pendidikan semakin hari semakin mahal dan hampir tak terjangkau oleh
kelas menengah sekalipun!. Sungguh ironis di saat pemerintah sibuk
mempropagandakan pendidikan ternyata kenyataan di lapangan malah berbanding
terbalik. Tai kucing! Gombal!. Pendidikan yg terjangkau selalu hanya jadi wacana saja, realisasinya
tersendat-sendat bahkan terkesan memprihatinkan dan tak terurus!.

Saya
(dan 2 kakak saya) bersyukur bisa menyelesaikan pendidikan pada saat bapak masih
jaya-jayanya. Walaopun kami semua bersaudara harus di sekolahkan di sekolah
swasta-mahal (untuk ukuran pundi2 emas bapak dan ibu) dan dengan penerapan
metode gali lobang tutup lobang, puji Tuhan sekarang bapak dan ibu bisa menepuk
dada, bangga akan hasil kerja keras dan cucuran airmata nya.

Si Encep Markotob memang termasuk anak yang pintar; langganan peringkat teratas
di sekolahnya. Saat ibu memberi kabar ia bahkan masih tercatat sebagai
mahasiswa semester 2 di (lagi-lagi) perguruan tinggi negeri terkemuka di
Makassar. Dia diterima di universitas itu tanpa ujian UMPTN; lolos berkas hasil
rekomendasi dari sekolahnya, SMU 17, sekolah unggulan di Makassar. Walaupun
jurusan yang dia geluti bukan 100% panggilan hatinya toh dijalaninya demi
status mahasiswa, better than jadi pengacara kali pikirnya.

Dan,
lagi-lagi terbentur masalah rupiah. Tahun lalu si Encep lolos ujian seleksi
program beasiswa ke Saxion University, Belanda. Tapi program beasiswa koq masih
bikin kantong bapakku menangis bombay. Ini betul-betul mahal!. Menjual rumah
dan sawah bapak di kampung pun belum tentu si Encep bisa duduk manis di
universitas ini. Akhirnya dengan berat hati (dan dipaksa) maka amblas sudahlah
impian si Encep untuk bersekolah ke luar negeri.

Dimana diriku saat itu? Saya (saya di sini termasuk suami yah bow) belum lah semapan (setengah mapan) seperti sekarang.
Saat itu kami baru menikah, suami masih berstatus student dan saya barulah belajar
menyukai Belanda. Sayang sekali, waktu dan kesempatan bukan punya saya. Kami terpaksa tak bisa membantu. Saya hanya bisa menggigit jari ketika
mata dan telinga serempak bersorak garing. Rupiah yg musti disediakan tidak
sedikit. 10ribu Euro!!. Dan, saya terisak di bangku merah sembari membayangkan
wajah si Encep yg kosong dijauhi mimpi. Tragis!.

Tahun
ajaran baru kemarin si Encep kembali mencoba peruntungannya di Trisakti dan
IKJ, tak tanggung-tanggung Fakultas Design Komunikasi Visual menjadi jagoannya.
Seperti kataku, si Encep tidak dudulz. Hasil pengumuman Trisakti menempatkan
namanya di urutan ketiga dari sekian ratus peserta ujian saring, sedangkan di
IKJ si Encep pasrah nangkring di urutan ke dua.

                tuh bibir jgn memble– to be continue maksuté

Ncep mencari mimpi. Bag. 2-TAMAT

December 9th, 2007 by mijn-papilon

Dimana
saya saat itu?  Saya kokoh berdiri di belakang si Encep. Kegagalan
(klo bisa di sebut: ketiadaan) diharamkan terulang kembali. Si Encep harus
sekolah di manapun yg ia mau, asal jgn di UPH, masih mahal menurut
hitung-hitungan ku *smile*.

Bapak
dan ibu mulai sekarang diwajibkan berhenti memikirkan masalah fulus. Waktunya senang2,
ongkang2 kaki. Cukup memandang dari dekat saja. Saatnya saya  yg
ambil bagian, walopun porsinya kecil.

Gayung bersambut, suami menyetujui gagasan saya
dengan sukacita.
Bagi dia pendidikan emang nomor siji. Sodara2 saya lain
juga diikut sertakan. Si Cuplis, kakak lelaki tertua saya bertugas membuat
surat perjanjian sehubungan dgn kerjaannya dia sebagai hakim (hakim kelas
teri). Si Menik, anak sulung bertugas sebagai bendahara, dan si Ucrit
difokuskan untuk menafkai bapak dan ibu secara dia doang yg masih numpang di
rumah ortu. Adil kan!. Mertua tercintaku bertindak sebagai penasehat utama, dan
penyandang dana tak terduga *smile*. Pintar kan saya cari suami huahahaha.

Walopun ada lumbung pangannya. si
Encep tidak bersekolah gratis. Si Encep dijerat UU hasil musyawarah kami. Intinya,
klo mau sekolah si Encep harus tunduk dalam kontrak yg kami buat. Jadi, semua
biaya perkuliahan si Encep tidak termasuk uang rokoknya, itu kami yg tanggung.
With
conditions: Bila si Encep tidak atau dengan sengaja berhenti dr kuliahnya maka
semua biaya yg telah kami keluarkan itu harus dia bayarkan kembali tanpa bunga.
Terserah kapan saja dia mau, sistem cicilan atau ngambil kredit canda kulak,
terserah pokoknya kami harus balik modal. Kedua, bila si Encep dapat
menyelesaikan kuliahnya dlm jangka waktu 4 thn, tdk lebih boleh kurang maka
biaya2 itu harus dikembalikan 30%, kapan saja bisanya si Encep yg jelas kami
harus balik modal lagi hihihi.

Aneh
yah.. katanya mo membantu koq si Encep malah ‘diperkosa’ begini. Itu namanya ga
iklas ya
..

Bukan,
bukan begitu maksud kami. Cara ini saya ‘curi’ dari mertua saya, katanya sih
biar anak2 lebih termotivasi untuk sekolah. Dan ini sudah terbukti. Ipar saya
(adik suamiku) masih terikat utang piutang dgn orgtua nya. Salah sendiri lah,
dikuliahkan koq kerjaannya malah nyimeng melulu. Alhasil kuliah manajemen-nya
babak belur, terbengkalai.

Si
Encep kelihatan senang bukan kepalang karna mendapatkan kembali impiannya yg
sempat hilang. Saya sdh wanti2 si Encep, supaya jangan sampai di belakang2
malah mempermalukan saya (bapak dan ibu termasuk). Ini hasil kerja keras saya
juga, mencuci otak suami agar kiranya mau menafkai kuliah si Encep walopun
konsekuensinya rencana liburan tahunan kami harus diubah sebesar 180̊.

Bukan
salah si Encep punya cita2 tinggi. Si Encep bukan tidak tau diri, ga punya duit
koq mau skolah tinggi!. Bukan!. Salahkan saya sajalah, klo mengacuhkan isi
kepala si Encep. He’s damn genius!. Bagi saya, si Encep ini sumber daya manusia
yg harus diberi pupuk, biar nanti  buahnya lebat dan manis2, berguna bagi nusa-bangsa dan keluarganya.

Klo
yg baca berpikir, mana peranan sodara2 saya yg lain? Saya jawab singkat, jelas dan tepat and tanpa harus
menyombongkan diri, begini: dibanding mereka, kehidupan saya berlebih sedikit.
Tanggungan kami belum terlalu banyak. Syukur2 malah ada tunjangan anak dari
pemerintah. So, sekarang
ada waktu (uang), ada kesempatan. Semuanya harus lengkap tersaji demi segaris
senyum di wajah Encep, my brother pakyu men! huehehheeh

Pembaca yg budiman, doakan si Encep yah, biar dia rajin sekolah. Agar output nya ntar bisa berdayaguna and go internasional ga interlokal melulu.

Terakhir
di telepon ibu bilang: “ ingat nak, pendidikan tinggi bisa mengangkat nama
keluarga”
. And i do believe
that.

                                                       T A M A T

                              

‘L’ world

November 25th, 2007 by mijn-papilon

17.40

Pusat
kota Nijmegen basah kuyup. 20 menit yang lalu hujan berhenti tertumpah. Untung
saja aku membawa payung. Jalanan di depanku tampak berkilat diterpa cahaya
remang-remang lampu kota. Belanda sudah lebih cepat gelap dari biasanya.,
begitu batinku. Hembusan angin dingin terasa mengalir masuk melalui celah
jas-ku.

Jarum
jam Seiko tuaku telah bergeser semenit, ah, aku harus bergegas. Waktu ku tidak
sedikit. Tidak baik membuat teman menunggu.

 

Dari
radius 100 meter Heineken board berkelip sekan menyambut kedatanganku. Hoppa!
sampai juga akhirnya. Setelah membuka jas dan menggantungnya di garderobe,
mataku sibuk mengitari ruangan cafe yang bermandikan cahaya bulp ungu. Belum
begitu ramai. Dimana Lena? belum tampak kehadirannya. Ah, mungkin ia belum
datang. Tumben telat, biasanya aku yang membiarkan dia menunggu. Segera ku
ambil tempat di pojokan smoking area. Hmm..strategis, dekat dengan bar dekat
pula dengan toilet.

 

Diluar
hujan kembali tertumpah. Satu-satu pengunjung mulai berdatangan. Belum tampak
wajah Lena. Kerongkonganku terasa kering minta dibasuh. Kuraih menukaart.
Begitu banyak pilihan minuman, bingung. Dinginnya udara dari luar memaksaku
untuk memesan segelas hot coklat. Ide yang cemerlang untuk menghangatkan
badanku. Tak terlalu lama, secangkir hot coklat terhidang di depanku. Hmm..aroma
kayu manis langsung menyergap indera penciumanku. Ku nikmati seteguk, masih
panas.

 

Tak
beberapa lama setelah tegukan terakhir, dari pintu masuk ku lihat Lena
melambaikan tangan. Ia datang bersama seorang teman wanita. Mereka segera
menghampiriku, mengambil tempat tepat dihadapanku. Lena tampak begitu beda
dibandingkan waktu terakhir bertemu dengannya. Ia terlihat lebih fresh dan vrouwlijk
terlebih dengan polesan perfect red di bibirnya. Sempurna!.

 

“Maaf,
aku terlambat. Di depan HEMA aku terperangkap hujan” katanya sambil mencium
pipi ku 3 kali.

 

“Ah, no problem” balasku sambil
mempersilahkan ia duduk.

 

“Kenalkan
ini Anke”

 

“Joyce”. Jawabku sambil segera
menjabat tangan Anke.

 

Setelah bertukar kabar, segera ku
raih bungkusan kecil dari dalam tasku dan kuangsurkan kehadapan

Lena

.

 

“Hartelijk
gefeliciteerd voor jouw verjaardag en nog vele jaren!” kembali ku cium pipi gadis belia di depanku
yang 5 hari lalu genap berusia 25 tahun.

 

“Dankje
wel”. Dengan tergesa dibukanya kertas kado bergambar santa klaus itu. Semenit
kemudian ia bersorak gembira. CD terbaru Anouk sudah berada dalam dekapannya.
Ia memelukku dengan senyum bahagia.

 

 

 

20.02

Pengakuan
Lena sontak membuat darahku terkesiap. Mustahil, rasa tidak percaya, atau
mungkin saja dia bohong. Semua perasaan ini saling tarik-menarik mencari penjelasan
lebih. Apa yang salah dengan dirinya?. Seorang gadis belia berambut coklat
dengan mata yang seteduh telaga, cantik tak bercela. Lelaki mana yang tak ingin
memiliknya?.

 

Lena
menangkap tanda tanya besar yang bergelayut di kepalaku. Spontan ia mengambil sebatang
Marlboro merah dan menyulutnya. Asap toxic tipis-tipis berdesakan, menari-nari
dari mulutnya. Hening.

 

“ Apakah saya tidak normal?” tanya

Lena

tiba-tiba.

 

“ Nee,

Lena

” balasku singkat. Yang ku tau
tatapan matanya seakan ingin ikut melumatku dengan pertanyaannya barusan.

 

“Apakah
kamu tetap mau berteman denganku?”  todongnya dengan mimik serius.

 

“ Ja. Apapun dirimu, you’re stil my
friend” tuntasku cepat  sambil mengenggam
erat tangannya.

 

22.23

Hawa dari pemanas bus di bawah jok menyelimutiku
hangat. Sempat mataku tertumbuk pada digital board yang terpasang kokoh di atas
waiting shelter. 5̊C. Dingin.

Pandanganku
keluar sdikit terhalang oleh sapuan tipis kondensasi. Naluri ibu-rumah tanggaku
melayang ke rumah. Ah, pasti boneka kecilku tengah pulas terbuai mimpi, dan sang
pangeranku duduk terpaku di depan komputer mengerjakan disertasi yang dikejar
deadline. Aku tersenyum membayangkan wajah-wajah hadiah dari surga itu. I’m so
blessful Tuhan…

 

Bus
bergerak perlahan meninggalkan NCS. 7 menit menunggu penumpang, Hermes masih
tampak lengang. Memang tak begitu banyak penumpang di jam-jam seperti ini,
kecuali saat malam mingguan dan saat hari kerja yang terkadang membuatku harus
rela berdiri, berdesak-desakan dengan penumpang yang kebanyakan pelajar.

 

Di
depan halte Intra Tuin, naik 2 orang wanita setengah baya berdandan ala gothic.
Aroma DKNY Delicious serta merta memenuhi rongga bus. Sedikit unconeccted
dengan udara di luar. Begitu pikirku.

 

Melihat
dua wanita itu, aku kembali teringat Lena dan Anke. Sungguh aku masih tak habis pikir. Koq bias
yah? Namun dari penjelasannya tadi, aku yakin bahwa

Lena

telah pasrah ‘bersetubuh’ dengan
identitas barunya. Lesbi.

 

Menurut penuturan

Lena

, ia sudah lama bergumul mencari
kebenaran identitas dirinya. Tepatnya saat ia berusia 17 tahun. Ia sering
merasakan getar aneh saat berada di dekat Anouska, teman kelasnya. Toh perasaan aneh itu masih bisa dipungkirinya dengan beberapa kali memadu
kasih dengan pria sejati, namun entah mengapa ada rasa yang tetap dahaga mencari
sosok perempuan.

 

Permasalahan semakin pelik saat
ayahnya yang seorang katolik sejati mendapatinya sedang bermesraan dengan
sesama jenisnya.
Neraka dan aib. Bagi orangtuanya ini seperti karma. Ayan
Lena dikenal sebagai seorang homophobia yang suaranya kerap terdengar dalam
aksi gereja anti gay-lesbian and biseksual.

 

Lena
yang dibesarkan dengan kemuliaan kristianiti divonis ‘sakit jiwa’ dan
dikucilkan dalam keluarganya laiknya seorang yang mengidap penyakit menular dan
mematikan.

“Seorang
homo itu dosa dan mereka pasti akan masuk neraka’’ begitu bunyi tulisan dengan
kapital letter tergantung di pintu kamarnya.

Sejenak
aku berusaha menyelami pergulatan batin Lena (dan Anke). Betul-betul suatu
perebutan antara ‘hidup atau mati’, bak makan buah simalakama.

 

Perkenalanku
dengan Lena berawal di train menuju Arnhem. Dilandasi oleh maksud yang sama,
menonton konser Symphonica In Rosso-nya Marco Borsato, kami langsung terlibat
pembicaraan akrab. Lena, teman baruku ini sangat friendly, tak tampak
tanda-tanda penyimpangan seksualitasnya. Dia normal. Ia sempat memuji model
perutku yang menurutnya ‘mooi’ (besar ke
depan) walaopun tengah mengandung 7 bulan.

Selepas konser, kami saling bertukar
nomor telepon karena kebetulan dia tinggal di dekat pusat

kota

 

Nijmegen

. She is a good companion for hang
out. Begitu promosinya.

 

Aneh memang. Setidaknya inilah kata
yang tepat untuk mewakili perasaanku. Betulkah Tuhan itu adil dengan menjadikan

Lena

cantik sekaligus lesbi dan aku yang
normal dengan paras yang biasa-biasa saja?.

Apakah Lena mengidap penyakit
gangguan jiwa seperti yang tanteku
selalu bilang saat melihat aksi wanita-wanita lesbi di layar kaca? ataukah

Lena

 terkena karma atas aksi ayahnya yang seorang homophobia?. Aku semakin
tak sadar berspekulasi. Syaraf-syaraf neuronku terasa semakin aktif mencari dan
mencari penjelasan lebih. Aura busukku ikut ambil bagian. Stop!.

 

Rasa ingin tahuku semakin beringas.
Butiran bening sempat diusap

Lena

dari kedua pipinya. Aku merasa bersalah sekan
menempatkan dia di kursi pesakitan, menghujani dia dengan pertanyaan yang
mengkoyak harga dirinya. Het spijt me, lieve

Lena

.

 

Bus kembali berhenti, kali ini di
halte bus depan Union Sport. Serombongan anak ABG berebutan naik ke bus. Dari
tas yang mereka sandang nampak kalau mereka habis bermain hockey.

 

“He, homo!” teriak seorang dari
mereka.

 

Entah pada siapa ditujukan kata itu.
Temannya yang lain hanya tertawa cekikikan, saling menimpali menggunakan bahasa
planet yang aku betul tidak mengerti.

 

Kata Pak Agus, guru antroplogiku: secara
teoritis, homoseksualitas dapat diartikan sebagai rasa tertarik secara perasaan
baik itu kasih sayang atau hubungan emosional dan secara erotik, baik secara
predominan maupun ekslusif terhadap orang-orang yang berjenis kelamin sama,
dengan atau tanpa hubungan fisik. Homo seksual lebih tepatnya mengacu pada
orang, baik laki-laki ataupun perempuan yang memakai orientasi homoseksualnya
sebagai kriteria pokok dalam mendefinisikan identitasnya atau lebih dikenal
dengan istilah gay untuk pria dan lesbi untuk wanita. Adapun
dorongan untuk mencintai sesama jenis ini ada secara alami dan terdapat di
dalam kebudayaan di seluruh dunia.

“ Saya tidak pernah mau menjadi
seorang lesbi, ini pilihanku yang paling sulit” ucap

Lena

disela-sela isapan Marlboro
merah-nya yang sudah setengah terbakar. Tatapannya menerawang jauh, entah apa
yang ia pikirkan saat itu. Aku hanya bisa mengamininya.

 

Bus masih terpacu pada 60km/jam.
Anak ABG tadi sudah pada turun di depan sebuah snackbar. Ahh…mungkinkah ada
diantara mereka yang lesbi? Atau mereka pun masih berjuang mencari pembenaran
jati diri?.

Lena-ku sudah merdeka sejak 3 tahun
lalu. Ia tidak lagi ‘bergerilya’ sembunyi dari gempuran suara minus
sekelilingnya yang menuntut ia segera kembali pada kodratnya. Itupun harus
dibayarnya mahal; kehilangan kontak dengan keluarganya.

 

Beruntung Lena, Anke hidup di
belantara Belanda; negara yang begitu menjunjung tinggi hak azasi manusia.
Mereka bisa bernafas lega karena mereka tidak sendiri. Bila suatu saat mereka
akan menikah, pun ini sudah diatur dalam undang-undang pernikahan sejenis yang
telah dilegalkan sejak April 2001 yl.

Terlepas dari sudut pandang agama, menjadi
seorang lesbi adalah hak bukan karena penyakit, kutukan, karma atau apapun itu
namanya; ini terdapat dimana saja dalam kehidupan manusia karena secara
biologis-psikologis manusia dilengkapi dengan kemampuan untuk melakukan
tindakan seks yang jauh lebih banyak macamnya daripada hanya senggama penis
dengan vagina (Dede Oetomo, 2001: 96).

 

Untuk menggenapi cerita

Lena

, Anke sempat memperlihatkan mata
kalung yang berbentuk kapak bermata dua.

 

“ Ini Labrys, symbol lesbian world”
papar Anke.

 

“Saya lesbi, tetapi saya punya
kekuatan dan kemandirian, that’s why I’m stil alive” celoteh Anke berapi-api.

 

Aku mengagumi semangat mereka, semangat
untuk tetap hidup sebagai kaum minoritas, yang menurut sebagian orang lahir
dari perpaduan sosial dan budaya. Andai kata saya di posisi

Lena

, akupun memilih sebagai lesbian.
Sebuah pilihan teramat sulit, tapi lebih baik daripada hidup tersiksa. Suka atau tidak suka, mereka adalah bagian
dari konstruksi masyarakat.

 

Bus ini bagaikan L world bagiku,
love dan lesbi, cinta dan

Lena

.
Homo–gay tak jauh beda dengan lesbi; gelar homoseksualitas akibat‘
penyeberangan gender

Ku pencet tombol stop di depanku.
200 meter lagi aku harus segera turun. Pantulan cahaya lampu

kota

menari-nari di atas genangan air.
Lonceng gereja balaikota telah berdentang sebelas kali. Ah, cukup lama juga
cerita

Lena

bermain di kepalaku. Aku hanya
punya satu kesimpulan: lesbi adalah sebentuk rasa yang minta untuk
dimengerti .(Alberthiene Endah, dicintai Jo).

 

(Lieve Lena, u’ll always be my
friend, whoever u are).

 

MADU TAK SELAMANYA MANIS

November 25th, 2007 by mijn-papilon

Hehehe..ga
kuku judulnya.

“Ris,
tolong dong cariin kerja di situ (Belanda). Udah senang jgn lupa teman
donggg…”

 
Aniwei,
saya jadi heran sendiri; knapa sih org-org slalu berpikir hidup di LN itu enak
bila dibandingjkan dgn hidup di Indonesia? Apalagi klo udah merit sm bule udah
deh pasti dicap borju, banyak euros. Apa karena istri bule yg pulkam kliatannya selalu mentereng?, well I
don’t know for sure. Tapi mungkin ada benarnya juga yah…

 
Seperti yg saya bilang: madu tak
selamanya manis, hidup di LN pun demikian. Tapi teorinya malah berbalik, tiap
hari klihatan semakin banyak orang yang terobsesi untuk meraih mimpi indah di
LN.

Ada apa dengan LN? Sini coba saya jelaskan
menurut sudut pandang saya (sudut pandang IRT maksud nya hhehhehehe).

 
Bagi anda yg blum pernah sama sekali
berkunjung ke LN dan udah kepalang basah dinodai oleh janji-janji manis para
penjual mimpi akan senangnya hidup
(bekerja) di LN, hidup di LN itu ada enaknya tapi lebih banyak tidak enaknya. Kalopun
enak, bisa dibilang LN itu lebih established dibandingkan dengan
Indonesia yg notabene masih tertatih-tatih, jatuh
bangun dlm perkembangannya (but ini jgn dijadikan tolak ukur enak tidaknya
yah).

 
Hidup di LN itu malah lebih ‘jungkir
balik’ lagi. Seperti yg pernah saya jelaskan di tulisan saya sebelumnya
‘Gonjang-ganjing Intania’, saya mengibaratkan hidup saya bagaikan di meja judi
yg bila salah strategi otomatis smua taruhan melayang.  Dan itu memang benar (
Suzan,France: komentar anda masih segar diingatan
saya)
atau memang
si Suzan yg kurang mengerti maksud dr perumpamaan tsb atau pengandaian saya
terlalu sulit dan mengada-ngada? Well, I don’t care.

 
Ada
beberapa point penting yang bisa
saya jabarkan di tulisan saya kali ini, yaitu:

1). Kerja
Mencari kerja di sini itu tidaklah
mudah, karena sepanjang pengetahuan saya KKN itu cuman diterapkan oleh
segelintir orang saja. Ga ada
sogok-menyogok untuk mencapai karier, semuanya didasarkan pd penilaian
performance kerja anda. Kalo bego dan telmi dalam bekerja sudah pasti anda
dikategorikan dlm un-productif worker yg selanjutnya anda akan bernasib ‘u
fired!!’(minjem kata2nya si Donald Trump) atau kontrak anda tdk bakalan
diperpanjang. Hidup di LN itu menuntut kerja keras, punctuality,
independent bukan dependent, ga pake embel2 anda anaknya siapa. Jadi kalo anda
blum kuat mental, saran saya mending lanjutkan saja hidup anda di Indonesia toh
hidup dimana pun sama saja, bagemana menjalani dan menyikapi hidup itu anda
sendiri yang tentukan.

 
Bilapun ada yg ngebet pengen kerja
di LN (seperti teman cecungukku itu), itu pasti ga jauh-jauh dari isu
finansial, yup gaji dlm bentuk Euro, dollar, currency apapun itu.

Memang sih duit segitu jumlahnya
banyak apalagi klo dikonfersikan ke rupiah. Saya kerja sebagai oppas—babysitter
dan upah saya sejam itu 8 euro. Tiba-tiba dgn gaji segitu saya merasa kaya
banget (jujur loh ini!). Di Indonesia PNS kalo gajinya segitu mah sudah
huebattt benar.

Bagaimana kalo 8 Euro itu tetap 8
euro? Maka itu tidak ada apa-apanya. Sekali masuk supermarket habis deh.
Biaya
hidup di LN sangat sangat mahal. Untuk makanan minuman dikenakan 7% pajak (btw=belasting
toegevoed dewaarde.
Entah bahasa Indonesianya apa, ppn bukan?) dari
total konsumsi sedangkan untuk barang2 elektronik, pakaian dikenakan 21% btw.
Gila ga tuh!!.

 
Kembali
ke masalah gaji. Contohnya Belanda; Negara ini menerapkan system pajak
progressive artinya semakin banyak penghasilan anda maka semakin banyak pula
penghasilan anda terpotong pajak. Belum lagi biaya sembako, yg murah di sini
itu cuman appel, sekilonya 1 euro tp siapa yg mau makan appel tiap hari?!!, selanjutnya
tagihan listrik, health asuransi, pajak mobil yg kalo ditotal-total cukuplah
bikin mata mendelik huahahahhaa.

 
Ohya,
yg paling enak itu, bekerja di Indonesia dan diupah dlm bentuk euro..alamak
saya merasa seperti ratu minyak saja.. shopping trus..berapa sih hehehehehhe.

 
Btw,
kapan yah sistem penggajian di Indonesia negaraku tercinta bisa dirubah.dimana
org digaji betul2 berdasarkan kemampuannya—abilitynya—isi otaknya dan bukan karena
senioritasnya… well, I keep my finger crossed.

 
Penguasaan
bahasa termasuk salah satu faktor yg sangat mempengaruhi diterima atau tidaknya
anda bekerja. Punya modal TOEFL >500 juga bukan jaminan anda jago berbahasa,
untuk ukuran Indonesia mungkin ya. Dari pengamatan saya di sini, banyak teman2
sesama immigrant (kebanyakan dr Asia) yang lebih prefer kerjaan di belakang
layar, misalnya, jadi tukang cuci piring, cleaning service. Mengapa? Yah karna
factor penguasaan bahasa yg sangat terbatas itu atau mereka juga yg secara
terencana menutup diri berbaur dgn  masyarakat
lainnya. Wah, kalo begini caranya ga salah dong bule2 itu mencap kita sebagai
warga negara kelas dua yah karna itu td sikap yg tdk mau membuka diri dgn lingkungan
sekitar.

Eh jadi ingat pribahasa: “ dimana langit dijunjung di situ bumi
dipijak”
lebih harmonis lagi klo penerapan pribahasa itu tidak perlu sampai
mengorbankan nilai-nilai ketimuran kita. Tul ga man temanku?

 
2). Pergaulan
Mencari real friends di LN itu
susah-susah gampang. Kebanyakan orang masih menerapkan metode ‘take it for
granted’
. Kalo saya pribadi saya lebih prefer bergaul dgn org-org bule.
Bukan saya menutup diri bergaul dgn org
Indonesia tapi yah gitu deh saya  kapok dengan sudut pandang org-org Indonesia yg sebagian besar masih memandang
pertemanan itu dr tas yg kita tenteng. Hareee gini gitu loh!. Lagian kalo org
bule, saat kita berbuat kesalahan mereka langsung bilang, to the point ga ada
basa-basi (dalem emang), yg artinya peluang memiliki teman ‘munafik’ (ayooo
tunjuk jari) mendekati zero.

 

Di lain pihak, mayoritas org-org
bule itu lebih realistis dlm berteman ga pake embel2

LV,Gucci dan sebangsanya tapi lebih
kepada you are what you are, nyambung ga anda diajak ngomong.. begitu
kira2. Jadi jgn heran, bila anda di LN dan anda mengalami apa yg disebut
‘krisis pertemanan’ itu wajar koq. Ga dugem juga dianggap kampungan? don’t
worry itu jg normal. Tinggal di LN itu jg tidak berarti tidak kampungan. Banyak
koq org
Asia (Indonesia?) yg secara sadar mengadopsi
lifestyle-nya LN.

Ada yg pas ada jg yg murni dipaksakan,
kesannya jadi norak, malu-maluin. Semahal apapun barang yg dikenakannya klo dr
sononya udah udik ditutupin bagemana pun ‘jahitan’ aslinya pasti kliatan tuh huehehehehhe.

 
3). Single fighter

Bukan bearti partner saya hanya
leyeh2 saja dan membiarkan saya seorg diri banting tulang membabu buta. Maksud
saya, hidup di LN anda dituntut untuk mandiri, kuat berdiri di atas kaki anda
sendiri, tidak slalu berharap bantuan org lain. Apalagi yg sudah ibu2 seperti
saya, tanya deh mereka gimana menangis darahnya ngurus anak, bersih2 rumah,
berbelanja, masak, ngantar anak skolah belum lagi klo musti skolah atau kerja..
aplikasi manajemen waktu anda bener2
tertantang. Di sini ga ada bibi yg bisa disuruh-suruh, smuanya kerja sendiri.

 
4). Isu rasial
Hidup di LN itu menuntut anda dan
saya (kita dong) untuk tegar menjalani aktivitas yg monoton, itu-itu saja.
Pintar2 nya kita bagemana menyiasatinya lah. Ga cuman sampe situ saja, kita jg
harus mampu bersaing klo bisa sejajar dgn bangsa lain. Saya selalu merasa
jengkel oleh native yang terkadang menganggap saya warga negara kelas
‘ekonomi’. Bukan apa2, ga di Indonesia, di Amerika pokoknya di belahan dunia mana
pun masalah diskriminasi itu pasti ada walopun porsinya kecil. Stereotype org
bule (yg masih berpikiran zaman batu) masih menganggap wanita Asia yg menikah
dgn bule itu hanya semata2 faktor materi saja, cinta itu persoalan nomor dua,
atau org2 Turki, Maroko cocoknya jadi pekerja kasar dan lain sebagainya. Kalo
kita ga pandai2 menahan itu emosi, sampe berdarah2 pun ini masalah ga bakalan
ada titik terangnya.

 
Ya uding para pembaca yg budiman,
klo ada yg merasa tersentil dgn tulisanku kali ini mohon maapff aja deh. Ga
usyah marah2 lagi ntar cepat menopouse loh. Lebih saya anjurkan klo ditanggapi
dgn bener plus pake kata2 yg bener pula biar kita saling tukar pengalaman.
Sama2
hidup dirantau org dilarang saling mendahului,, metromini kali hheeeehheee..
yukkkkk!!!

 

FRIENDSTER, ku reguk madumu, ku nikmati racunmu.

November 9th, 2007 by mijn-papilon

Gila tanpa sadar friends di list di
rumah gw udah mencapai 150 orang. Ckckckckck… hebat sekali kau Risma.  Wew! segitu gampangnyakah mencari teman. Kenal
semua ga ? Hmm… ga juga sih (sambil garuk-garuk kepala
).

 

Friendster, teman dunia maya gw
sejak 2 tahun lalu. Gw hampir tiap hari ketemu nih makhluk. Cuman gw ga pernah
tau jenis kelaminnya apa.. gay kali yeee. Husss!! 

Gw kenal dia dari saat masih perawan
di lembah bujang sampai berstatus punya satu ekor. Lama-lama koq ada chemistry
yah antara kita berdua. Kasihan banget dia seandainya dia tau kalo awalnya dia
hanya sebagai tempat pelarian gw di tengah kebosanan dan kesepian yang really
drives me crazy. Pwehhhhh!!

 

Friendster
makhluk bukan ciptaan Tuhan. Dia
asik banget. Pinter banget. Tau segala-galanya. Password org aja dia tau.
Apalagi gossip-gossip yang bersembunyi di kotak baja private message, he/she
has the key. Dia juga pengertian banget. Bisa jadi teman curhat, cuman
sayangnya dia hanya bisa mendengar dan menampung, ga pernah bicara sekalipun. Pun
kalo ngambek hanya diam. Atau kalo lagi rajin ke’ngambekan’nya direalisasikan dgn
kata-kata kadang dia sok inggris pulak. Kalo ngambeknya lagi hebat nih, pintu
rumahnya di kunci, trus didobel dgn gembok  gede alhasil gw dan teman-teman lainnya ga bisa masuk. Bengong!!.

 

Friendster ngenalin gw juga ke
teman-temannya yg lain; item, putih, belang-belang, cakep, jelek, pokoknya
segala macam deh. Si Friendster emang udah keliling dunia. Malah katanya dia
udah punya 50juta teman dari 75 negara di dunia. Weleh weleh.. Saking banyaknya
dia punya teman kadang tuh jalanan depan rumahnya udah penuh sesak dgn mobil,
motor. Gw yang cuman naik sepeda musti
nyempil-nyempil deh parkirnya. Sampe pak RT protes, katanya,” tau ga lo,
karena kemampuan tebarpesonamu yg diatas
rata-rata, kamu dibabtis diurutan ke-14 as the largest biang kerok macet
sedunia!”. Gimana pak RT ga mau protes, soalnya dalam sehari 24 jam bisa 45ribu
org yang main ke rumah si Friendster!. En gw saah satunya.

 

Ga heran gw. Si Friendster
kan emang supel banget makhluknya, jadi ga hanya org Indonesia aja temannya.
Ada juga yg dari Philipina, Singapore dan Malaysia. Dengar-dengar nih, temannya
di negeri Eropa, China, Taiwan dan Hongkong semakin bertambah. Padahal dia ga
cakep-cantik amat koq.

Bajunya
yang dia pake kalo ga putih ya biru. 6 bulan yang lalu kalo ga salah, dia minta
dimetamorfosiskan ama si Michael. Alasannya sih biar teman-temannya ga bosan
dgn penampilannya. After that, doi cakep-cantik banget. Looks fashionable. Udah
pake botoks berapa tuh dia. Gw aja jadi pangling. Bikin gw makin jatuh cinta,
betah berlama-lama main ke rumahnya. Akan tetapi pemirsa, walopun udah
dipermak, kadang selera zaman batunya bangkit lagi dari kuburnya. Norak. Apalagi
kalo pake baju hitam wadowww.. bikin mata gw mlotot berkerenyit-kerenyit seakan
sedang menatap matanya si Deddy Corbuzier.

 

135
teman itu gw kenal dari si Friendster. Taulah dia antenenya tinggi dan
cabangnya ada dimana-mana. Ga kenal baik sih, namanya juga dunia maya., ketemu muka doang. Kalau
lagi beruntung ada juga koq yg ngajak ketemuan di dunia nyata. Ngape-ngape,
dugem, makan bareng,jumpa fans dan lain sebagainya. Kalau udah begini malah si
Friendster ga mau ikut. Katanya sih mau jaga markas aja, siapa tau ada yg
bertamu… (kuntilanak iya).

 

Si
Friendster tuh ngajarin gw untuk tidak pilih-pilih dalam berteman. Baiknya lagi
dia ngasih kebebasan buat gw untuk senantiasa berkirim comment atau sekedar
ngasih senyum ke org lain. Biar dikira ga sombong kali yeee.

 

Sekian
lama luntang-lantung di rumahnya si Friendster, akhirnya gw kenal beberapa teman yg emang asik untuk diajak ngobrol dan
bertukar pikiran en pengalaman. Kadang kalo lupa waktu, bisa seharian deh
cyber—kopdaran dengan mereka. Mereka, ada yg pendiam; ditegur duluan baru mo
ngomong. Ada juga yg udah akrab keq udah kenal dari jaman jahiliah. Meski ga pernah face to face slalu
saja ada bahan obrolan.

 

Rumah gw pernah kedatangan UFO yang
isinya aliens–stranger yang tiba-tiba tiada angin tiada hujan marah-marah keq
tukang ojek berebut penumpang.
Hallowww..gud morning. How are you mister!!. Biar dikata kita di dunia
maya tapi itu etiket, sopan-santun bertetangga jangan dilupa donggg. Ga kenal
gw juga eh seenak udelnya muncrat-muncrat bak naga sembur bau jigong. Gw ga
nyenggol lo koq. Pengennya nih minta bantuan kekuatan bulan untuk menghukum
mereka. Berhubung gw cinta damai, piss forever jadi yah mending dicuekin aja.
Anggap
saja mreka bebek yang tersesat, lupa jalan pulang ke kandangnya.

Gw jamin deh aliens macam ituh pasti
udah kriputan mukanya or atlis ga pernah mencapai klimaks lha hobinya
ngomel2.com. Untuk unidentified object macam ini cukup disemprot dgn Baygon,
paling-paling lari or mati sendiri.

 

Si Friendster juga telah berjasa
menemukan teman-teman masa jadul-ku yang sebelumnya entah pada dimana rimbanya.
Gw bersorak gembira. Tali silaturahmi yang sempat putus kini tersambung lagi.
Si Friendster pun kembali menjadi saksi setia saat film hitam putih
bintik-bintik masa sekolah diputar. Ahhh..indahnya nostalgila masa sma.

 

Ada

satu spesies yg kadang bikin rumah
gw berantakan en I really hate them. Si Fakey. Dia ini adiknya munaroh, kakaknya munafik, bokapnya
A.Rafiq (nah lo!). Dalamnya laut siapa yg tau (tanyakan ke rongsokannya ADAM air),
hatinya dia siapa yg tau, walopun pake stetoskop paling dag-dig-dug-der nya
doang yg kedengaran.

“Hallo say apa kabar”, “Oi conk
kemane aja”. “Hi Jeng haw are yu tudey” . Aduhhh perhatian banget bikini hidung
gw kembang-kempis. Lo niat ga? Kalo ga niat mah judulnya cuman basa-basi yang
udah basi.
Tinggal gw keringin jadi deh rengginang.  Mending ga usah deh bow. Save it for Xmas aja yuuuuuu.

Kadangkala si Fakey pake modus
operandi baru.; yaitu pura-pura menjadi teman yang tender-loving-carenya
mencapai langit tingkat tujuh padahal ujung-ujungnya ada bisnis bongkar
muat secret strory. Sialnya lagi kalo
gesper mulutnya si Fakey rusak secret story lu—gw diaturnya di meja makan dijadiin
santapan low calories para gossipers.

 

Eh, ada lagi. Kalo ini gw ga tau masuk
diklasifikasi mana, entah flora or fauna. Wujudnya sih manusia tapi attitudenya
keq anjing pudel yang hobbynya tebar pesona, ngelaba sana-sini. Ampun deh!.
“You’re so sexy to me”, “Hello sexy. You really drive me crazy”. Kalo iman
wanitanya mudah rontok nih ujung-ujungnya pasti ranjang bergoyang =). Weii
rumah gw bukan rumah bordil. Eitsss.. ada juga lho wanita keq gini. As far as I
know, kebanyakan dari mereka masang hotty pics supaya si kumbang bule sebagai
target utamanya mau datang menghisap madu. Hihihiihihi. Tidak puas uang kembali
(appaaaa coba).

 

Sayangnya nih si Friendster ga
ngasih tau ke teman-temannya gimana caranya berteman yg sofan sopyan. Banyak
banget yan
g masuk ke rumah gw tanpa ketok pintu or at least memberi
salam. Dulu gw suka gitu. Sekarang
udah berkurang hihihi. Makanya sekarang pintu rumah gw udah digrendel super
dobel. Hanya teman-teman yg gw kenal aja yg boleh masuk, yg ga gw kenal musti
kenalan dulu kali yeeee biar afdol. Ga sopan

kan

klo para aliens itu seenak
dengkulnya liat-liat isi rumah org. Kalo ketemu gw setengah telanjang gimana. Bisa-bisa
gw dijual di porno site hiiiiiii…!!!.

 

Akhir kata. si Friendster tidak
menawarkan dan menjanjikan apa-apa. Dia hanya makhluk bisu yang pasrah
dicecokin apa saja. Kalopun gw bosan toh dia tetap akan menggenggam tanganku
sampai gw melepaskannya sendiri. Dan gw sadar, karena dia dunia itu menjadi kecil
sekali.

 

 

INDEPENDENT WOMAN

November 8th, 2007 by mijn-papilon

The shoes on my feet
I’ve bought it
The clothes I’m wearing
I’ve bought it
The rock I’m rockin’
‘Cause I depend on me
If I wanted the watch you’re wearin’
I’ll buy it
The house I live in
I’ve bought it
The car I’m driving
I’ve bought it
I depend on me

Sepenggal
lagu dari Destiny’s Child di atas dari semalam sudah menyeruak ke otakku meracuni untuk segera memainkan jemari ini di tutsboard kotak ajaibku.
Dan siang ini, berteman nyanyian hujan
dan suara dengkuran suamiku, aku memulai tulisan ini.

 
Alangkah enaknya menjadi seorang
wanita yang independent seperti yang dinyanyikan oleh Beyonce dkknya. Gambaran wanita mandiri yg tidak bergantung pd penghasilan suami. Mau
belanja tinggal buka kocek sendiri. Tidak ada deadline jatah bulanan untuk sang suami, mampu mengontrol materialnya sendiri.  Bagi saya itulah arti emansipasi yang sebenarnya.

Kartini dan Emansipasi

Ketika mendengar kata emansipasi,
pasti semua sepakat bahwa emansipasi berarti persamaan dan kesetaraan gender. Seperti
yang diperjuangkan oleh R.A Kartini, pejuang perintis perubahan bagi wanita Indonesia.

Perjuangan Kartini sebenarnya lebih banyak mengekspresikan nasib dirinya yang tidak bisa lepas dari praktik feodal priayi Jawa ketika itu. Dalam kumpulansuratnya kepada teman-temannya di Eropa. Ia menggambarkan penderitanperempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.

Benar, kita tak sedang kartini-kartinian. Karena zaman semodern ini emansipasi wanita
tak lagi identik dengan Kartini. Pernah dengar komentar Christine Hakim ttg
Kartini? dia tidak menganggap bahwa perjuangan Kartini mewakili seluruh wanita Indonesia,
bahkan mewakili wanita suku Jawa pun tidak. Christine menganggap Kartini hanya
mewakili wanita Jawa ningrat, yang memang harus dipingit, dan Kartini merasa
terbelenggu. Diluar sana wanita di bagian kasta lain dan mungkin di suatu suku terasing sudah menyingsingkan lengan bajunya untuk bekerja, menciptakan karya nyata jauh sebelum Kartini memulai perjuangannya.
 

Emansipasi sebenarnya bukan demi memperoleh persamaan hak dengan kaum
pria. Apabila hak kaum wanita disamakan dengan pria, malah akan merugikan pihak
wanita. Sebaliknya, hak kaum pria, secara kodrati, juga mustahil disamakan
dengan wanita, akibat realita kewajiban masing-masing jenis kelamin dengan
latar belakang biologis kodrati yang tidak sama.

Hanya saja
orang sering salah mengerti akan pengertian emansipasi, sehingga jika harus membahas hal ini
seringkali menimbulkan perdebatan sengit yang tanpa akhir. Hal ini disebabkan
adanya pengertian emansipasi yang tanpa batas, kebebasan meletakan derajat yang
terkadang diatas rata-rata, dan mau tak mau harus bertabrakan dengan ego pria
yang tetap berkehendak bahwa mereka adalah pemimpin.

 
Aku dan Kemandirian

Komentarku
yang mengatasnamakan emansipasi di blog seorang teman  berbuah kata-kata pedas. Aku cukup mengurut dada karena sejatinya ia pun mendefinisikan emansipasi dalam konteks yg berbeda dgn ku. Mbok Iyem si penjual jamu pun akan berargumen lain jika ditanya soal emansipasi ini.

Perjuanganku
berdiri di atas kaki sendiri dimulai saat keterpurukan ekonomi hampir
menghempaskan biduk rumah tangga orangtuaku. Tarik urat masalah keuangan hampir
setiap hari tiada habisnya. Penghasilan ayah yang saat itu sebagai prajurit
menengah menjerit tercekik demi menghidupi kelima anaknya yang semuanya
bersekolah. Penghasilan ibu sebagai pegawai negeri pun habis tak bersisa untuk
membeli kebutuhan sehari-hari agar dapur kami tetap ngebul

Dari
kepahitan itu sedikit demi sedikit aku mengumpulkan tekad untuk belajar
mandiri di usia dini. Uang saku yang tak seberapa setiap hari aku kumpulkan
untuk dijadikan modal berjualan makanan ringan di sekolahku. Setelah modal
telah terkumpul, ku beranikan diri untuk berbelanja sendiri ke pasar, memilih makanan
yang kira-kira akan disukai para pembeliku. Walaupun untungnya tak seberapa, aku masih bisa tersenyum puas.
Setidaknya itulah hasil keringatku sendiri, my own money.  Hingga satu saat, aku berhasil membeli pensil
warna LUNA idamanku. 2 hari kemudian kegiatan jual beliku diberhentikan oleh
pihak sekolah dengan dalih siswa dilarang berjualan di sekolah. Pun itu tidak
menyurutkan jiwa kewirausahaanku. Bisnis kecil-kecilan ku boyong di depan
rumah.
Dengan mengandalkan
meja kecil 30cmx50cm daganganku masih bisa terlihat manis mempromosikan diri.

Kehidupan baruku di negara kincir angin ini semakin
mengukuhkan bahwa emansipasi–kemandirian merupakan bagian dari diriku. Jenuh rasanya bila hanya berdiam diri di rumah. Dunia
kerja Eropa yang kompetitif jujur saja lebih menjanjikan jenjang karier yang perlahan tapi pasti semakin mengasah intuisi kemandirianku untuk ikut berpacu
meraup euros.

Namun aku sadar bahwa kualifikasiku
yang hanya seorang pemegang ijazah D3 sekolah kejuruan tidaklah ada apa-apanya untuk
bersaing di dunia kerja globalitas ini. Hal yang menggembirakan, International Diploma Wardeering
ijazah D3 Pariwisata-ku telah disetarakan setingkat dengan 4 tahun sekolah
kejuruan—High Vocasional Education jurusan hotel management, dan aku berencana
tahun ajaran mendatang akan memulai pendidikan kejuruan kinderopvang.

Wanita pekerja dan Kemandirian

Wanita bekerja bagiku merupakan
bentuk perwujudan dari emansipasi itu sendiri, dan tidak semata-mata karena
tuntutan materi saja, tapi lebih kepada ajang memperluas
wawasan dan mengaktualisasikan diri.

Bekerja adalah kebutuhan manusia yang hanya dimiliki oleh manusia. Merujuk kepada pemikiran Abraham Moslow dengan konsep piramidanya; semakin tinggi bagian piramida, semakin abstrak pula kebutuhan-kebutuhannyaPada tingkat paling bawah, manusia hanya memenuhi kebutuhan makan dan minum. Ia hanya memuaskan kebutuhan biologisnya. Bila kebutuhan biologis itu sudah terpenuhi, kebutuhannya akan naik pada tingkat selanjutnya. Kebutuhan di atasnya adalah kebutuhan akan kasih sayang,ketenteraman, dan rasa aman. Lebih atas lagi adalah kebutuhan akan perhatian dan pengakuan. Lebih tinggi daripada itu adalah kebutuhan akan self actualization atau aktualisasi diri. Tak pelak lagi puncak tertinggi dari piramida Maslow inipun menjadi alasan terpopuler para wanita pekerja untuk menemukan makna hidupnya. Dengan berkarya, berekspresi dan mengembangkan diri dan orang lain, membagikan ilmu dan pengalaman, menemukan sesuatu, menghasilkan sesuatu, serta mendapatkan penghargaan atau prestasi adalah bagian dari proses pencapaian kepuasan diri. 

Kebutuhan akan aktualisasi diri
melalui karir merupakan salah satu pilihan yang banyak diambil oleh para wanita
jaman sekarang, terutama dengan makin terbukanya kesempatan untuk meraih
jenjang karir yang lebih tinggi. Bagi wanita yang sebelum menikah memang
sudah bekerja karena dilandasi oleh kebutuhan aktualisasi diri yang tinggi,
maka ia akan cenderung kembali bekerja setelah menikah dan mempunyai anak.
Mereka merasa bekerja adalah hal yang sangat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan
aktualisasi diri, membangun kebanggaan diri, dan juga mendapatkan kemandirian
secara finansial.

Kemandirian Finansial dan Perjanjian Pra-nikah

Prenuptial Agreement atau lebih
dikenal dengan sebutan perjanjian pranikah adalah perjanjian yang dibuat sebelum
pernikahan dilangsungkan dan mengikat kedua belah pihak yang akan menikah.
Perjanjian ini berlaku sejak pernikahan dilangsungkan dan isinya mengatur
bagaimana pembagian harta kekayaan jika terjadi perceraian atau kematian
disalah satu pasangan
.

Pada awalnya perjanjian pranikah
banyak dipilih oleh pasangan yang bekerja dan berpenghasilan besar, atau bagi
orang-orang kaya yang memiliki warisan besar serta bagi duda atau janda yang
hendak menikah lagi tapi ingin memberikan kekayaan pada anak dari hasil pernikahan
sebelumnya. Keinginan orang dari perjanjian pranikah kian berkembang sejalan
dengan makin banyaknya orang yang menyadari bahwa pernikahan merupakan sebuah
komitmen. 

Kemandirian finansial-ku sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan perjanjian pra-nikah karena sebelum kami memutuskan menikah, dari kedua belah pihak tidak ada harta bawaan yang sekiranya harus terikat dalam hukum.

Harta yang sekarang kami miliki walaupun kepemilikannya atas
namaku atau suamiku sdh pasti tercatat dalam harta gono-gini. Bila suatu saat kami
harus bercerai, toh masih ada kemungkinan untuk duduk bermusyawarah. Aku tegaskan, this my two cents. Setiap pasangan kondisinya tentu berbeda tergantung kesepakatan bersama.   

Kembali kepada kemandirian finansial. Kemandirian finansial
wanita jaman sekarang, boleh dikatakan sudah sangat luar biasa. Tak terhitung lagi banyaknya wanita yang duduk di kursi empuk kepemimpinan. Tak bisa dipungkiri kalau emansipasi pun bisa cantik membalut diri salam bungkusan ‘independent’.

Bagi saya pribadi, kemandirian finansial adalah syarat mutlak untuk menghindari tekanan-tekanan terhadap perempuan termasuk di dalamnya KDRT, perselingkuhan dan masalah material lainnya. Kemandirian ini bukan berarti berlimpah harta, tetapi dapat menjadi
cadangan apabila terjadi sesuatu  yg tidak diinginkan.
Ini kiranya yang perlu digaris bawahi  concerning to  my comment on Gebe’s  blog. (baca: Perjanjian Pra-Nikah).

Sesungguhnya kemajuan wanita bukan
untuk menjadi saingan bagi kaum pria, tapi agar menjadi mitra yang sejajar,
bahkan bisa menjadi kebanggaan untuk para suami dan keluarga.
Mari memaknai emansipasi wanita dengan
benar, yaitu perjuangan kaum wanita demi memperoleh hak memilih dan menentukan
nasib sendiri.

All the women who are independent
Throw your hands up at me
All the honeys who makin’ money
Throw your hands up at me
All the mommas who profit dollars Throw your hands up at me
All the ladies who truly feel me
Throw your hands up at me

KEPADA SAHABAT; AKU MERINDUMU

November 2nd, 2007 by mijn-papilon

“persahabatan itu seperti tangan dengan
mata. Saat tangan terluka, mata
menangis. Saat mata menangis tangan
menghapusnya. Sahabat sejati akan selalu
mengiringi disaat suka dan duka serta
tak berharap balas jasa atas segala
pengorbanannya.”

Mata terasa basah memandangi foto-foto
di layar komputer. Berjuta kenangan
berpacu di kepalaku merangkai alur
flashback yang terpatah-patah tergilas
waktu.
Sahabat, di sini aku menangis karena mu.
Satu-satu, ku jelajahi wajah kalian.
Bila bisa, ingin ku raba biar terpuaskan
rasa.
Garis senyum dan tawa terbahak. Tangis
haru dan kegagalan, semua kita pikul
bersama.

Yah, kita dahulu begitu dekat; ruang dan
waktu.
Skarang di tengah
ketidakber dayaanku, aku teriak memecah,
memanggil kalian satu-satu. Dekat.
Peluk, harapan ingat padaku. Basuh
airmataku dan katakan kalau kalian slalu
ingat padaku.

Pernah, di setiap bahu kita saling
menangis. Berlebur airmata. Saling
menitipkan cerita. Haru birunya hidup
kita arungi bersama.  Saling menerima
perbedaan dengan kepala yang dingin.
Aku adalah mata dan telinga mu begitupun
sebaliknya.

Sahabat, engkau adalah kebutuhan jiwaku.
Kau bisa mendengar apa yang tidak aku
katakan, dan mengerti apa yang tidak aku
jelaskan.

Saat hati tergurat sedih, kalian datang
menyatukan kembali serpikan hatiku yang
terburai,satu per satu dengan kasih yang
tulus.
Tawa yang kalian bagi, harapku ada
jejakku di sana. Susah yang kalian
pikul, harapku ada bahuku di sana. Mari
berbagi airmata dengan begitu kita tak
saling merasa jauh. Aku merasa kalian
ada, dalam setiap ucap kataku.

Sekarang, balutlah luka hatiku.
Kerinduan yang semakin menyayat diri.

Kalian dimana? Papah aku. Hibur aku.
Hariku begitu penat dengan rutinitas
yang membosankan. Aku lemah. Kosong.
Terbunuh sepi.
Sungguh, kalian begitu berarti saat
kesendirian menghujam jiwa. Tanpa ampun.

Di sini, begitu jauh dari kalian.
Tertatih aku belajar apa arti
persahabatan .
Maaf, jika aku terlambat
mempelajarinya. Karena aku baru
menyadarinya setelah jarak itu
membentang diantara kita.

Tidak, kita tidak kehilangan apa-apa,
dan jangan menyalahkan siapa-siapa,
karena di setiap doaku aku slalu
mengingat kalian.

Berputar. Yah, hidup kita hanya
berputar. Toh kita akan kembali ke satu
titik yang sama. Tanpa membedakan engkau
teman, sahabat atau musuhku.

Satu per satu kalian datang dan pergi
dari hidupku. Tapi, sahabat sejati hanya
akan meninggalkan jejak manis yang
terindah dan layak untuk dikenang.

try {
var subj = document.getElementById(’bbsubjtxt’);
subj.innerHTML = subj.innerHTML.wordcut(20, ‘ ‘);
var body = document.getElementById(’bbbodytxt’);
body.innerHTML = body.innerHTML.wordcut(20, ‘ ‘);
} finally {}