17.40
Pusat
kota Nijmegen basah kuyup. 20 menit yang lalu hujan berhenti tertumpah. Untung
saja aku membawa payung. Jalanan di depanku tampak berkilat diterpa cahaya
remang-remang lampu kota. Belanda sudah lebih cepat gelap dari biasanya.,
begitu batinku. Hembusan angin dingin terasa mengalir masuk melalui celah
jas-ku.
Jarum
jam Seiko tuaku telah bergeser semenit, ah, aku harus bergegas. Waktu ku tidak
sedikit. Tidak baik membuat teman menunggu.
Dari
radius 100 meter Heineken board berkelip sekan menyambut kedatanganku. Hoppa!
sampai juga akhirnya. Setelah membuka jas dan menggantungnya di garderobe,
mataku sibuk mengitari ruangan cafe yang bermandikan cahaya bulp ungu. Belum
begitu ramai. Dimana Lena? belum tampak kehadirannya. Ah, mungkin ia belum
datang. Tumben telat, biasanya aku yang membiarkan dia menunggu. Segera ku
ambil tempat di pojokan smoking area. Hmm..strategis, dekat dengan bar dekat
pula dengan toilet.
Diluar
hujan kembali tertumpah. Satu-satu pengunjung mulai berdatangan. Belum tampak
wajah Lena. Kerongkonganku terasa kering minta dibasuh. Kuraih menukaart.
Begitu banyak pilihan minuman, bingung. Dinginnya udara dari luar memaksaku
untuk memesan segelas hot coklat. Ide yang cemerlang untuk menghangatkan
badanku. Tak terlalu lama, secangkir hot coklat terhidang di depanku. Hmm..aroma
kayu manis langsung menyergap indera penciumanku. Ku nikmati seteguk, masih
panas.
Tak
beberapa lama setelah tegukan terakhir, dari pintu masuk ku lihat Lena
melambaikan tangan. Ia datang bersama seorang teman wanita. Mereka segera
menghampiriku, mengambil tempat tepat dihadapanku. Lena tampak begitu beda
dibandingkan waktu terakhir bertemu dengannya. Ia terlihat lebih fresh dan vrouwlijk
terlebih dengan polesan perfect red di bibirnya. Sempurna!.
“Maaf,
aku terlambat. Di depan HEMA aku terperangkap hujan” katanya sambil mencium
pipi ku 3 kali.
“Ah, no problem” balasku sambil
mempersilahkan ia duduk.
“Kenalkan
ini Anke”
“Joyce”. Jawabku sambil segera
menjabat tangan Anke.
Setelah bertukar kabar, segera ku
raih bungkusan kecil dari dalam tasku dan kuangsurkan kehadapan
Lena
.
“Hartelijk
gefeliciteerd voor jouw verjaardag en nog vele jaren!” kembali ku cium pipi gadis belia di depanku
yang 5 hari lalu genap berusia 25 tahun.
“Dankje
wel”. Dengan tergesa dibukanya kertas kado bergambar santa klaus itu. Semenit
kemudian ia bersorak gembira. CD terbaru Anouk sudah berada dalam dekapannya.
Ia memelukku dengan senyum bahagia.
20.02
Pengakuan
Lena sontak membuat darahku terkesiap. Mustahil, rasa tidak percaya, atau
mungkin saja dia bohong. Semua perasaan ini saling tarik-menarik mencari penjelasan
lebih. Apa yang salah dengan dirinya?. Seorang gadis belia berambut coklat
dengan mata yang seteduh telaga, cantik tak bercela. Lelaki mana yang tak ingin
memiliknya?.
Lena
menangkap tanda tanya besar yang bergelayut di kepalaku. Spontan ia mengambil sebatang
Marlboro merah dan menyulutnya. Asap toxic tipis-tipis berdesakan, menari-nari
dari mulutnya. Hening.
“ Apakah saya tidak normal?” tanya
Lena
tiba-tiba.
“ Nee,
Lena
” balasku singkat. Yang ku tau
tatapan matanya seakan ingin ikut melumatku dengan pertanyaannya barusan.
“Apakah
kamu tetap mau berteman denganku?” todongnya dengan mimik serius.
“ Ja. Apapun dirimu, you’re stil my
friend” tuntasku cepat sambil mengenggam
erat tangannya.
22.23
Hawa dari pemanas bus di bawah jok menyelimutiku
hangat. Sempat mataku tertumbuk pada digital board yang terpasang kokoh di atas
waiting shelter. 5̊C. Dingin.
Pandanganku
keluar sdikit terhalang oleh sapuan tipis kondensasi. Naluri ibu-rumah tanggaku
melayang ke rumah. Ah, pasti boneka kecilku tengah pulas terbuai mimpi, dan sang
pangeranku duduk terpaku di depan komputer mengerjakan disertasi yang dikejar
deadline. Aku tersenyum membayangkan wajah-wajah hadiah dari surga itu. I’m so
blessful Tuhan…
Bus
bergerak perlahan meninggalkan NCS. 7 menit menunggu penumpang, Hermes masih
tampak lengang. Memang tak begitu banyak penumpang di jam-jam seperti ini,
kecuali saat malam mingguan dan saat hari kerja yang terkadang membuatku harus
rela berdiri, berdesak-desakan dengan penumpang yang kebanyakan pelajar.
Di
depan halte Intra Tuin, naik 2 orang wanita setengah baya berdandan ala gothic.
Aroma DKNY Delicious serta merta memenuhi rongga bus. Sedikit unconeccted
dengan udara di luar. Begitu pikirku.
Melihat
dua wanita itu, aku kembali teringat Lena dan Anke. Sungguh aku masih tak habis pikir. Koq bias
yah? Namun dari penjelasannya tadi, aku yakin bahwa
Lena
telah pasrah ‘bersetubuh’ dengan
identitas barunya. Lesbi.
Menurut penuturan
Lena
, ia sudah lama bergumul mencari
kebenaran identitas dirinya. Tepatnya saat ia berusia 17 tahun. Ia sering
merasakan getar aneh saat berada di dekat Anouska, teman kelasnya. Toh perasaan aneh itu masih bisa dipungkirinya dengan beberapa kali memadu
kasih dengan pria sejati, namun entah mengapa ada rasa yang tetap dahaga mencari
sosok perempuan.
Permasalahan semakin pelik saat
ayahnya yang seorang katolik sejati mendapatinya sedang bermesraan dengan
sesama jenisnya. Neraka dan aib. Bagi orangtuanya ini seperti karma. Ayan
Lena dikenal sebagai seorang homophobia yang suaranya kerap terdengar dalam
aksi gereja anti gay-lesbian and biseksual.
Lena
yang dibesarkan dengan kemuliaan kristianiti divonis ‘sakit jiwa’ dan
dikucilkan dalam keluarganya laiknya seorang yang mengidap penyakit menular dan
mematikan.
“Seorang
homo itu dosa dan mereka pasti akan masuk neraka’’ begitu bunyi tulisan dengan
kapital letter tergantung di pintu kamarnya.
Sejenak
aku berusaha menyelami pergulatan batin Lena (dan Anke). Betul-betul suatu
perebutan antara ‘hidup atau mati’, bak makan buah simalakama.
Perkenalanku
dengan Lena berawal di train menuju Arnhem. Dilandasi oleh maksud yang sama,
menonton konser Symphonica In Rosso-nya Marco Borsato, kami langsung terlibat
pembicaraan akrab. Lena, teman baruku ini sangat friendly, tak tampak
tanda-tanda penyimpangan seksualitasnya. Dia normal. Ia sempat memuji model
perutku yang menurutnya ‘mooi’ (besar ke
depan) walaopun tengah mengandung 7 bulan.
Selepas konser, kami saling bertukar
nomor telepon karena kebetulan dia tinggal di dekat pusat
kota
Nijmegen
. She is a good companion for hang
out. Begitu promosinya.
Aneh memang. Setidaknya inilah kata
yang tepat untuk mewakili perasaanku. Betulkah Tuhan itu adil dengan menjadikan
Lena
cantik sekaligus lesbi dan aku yang
normal dengan paras yang biasa-biasa saja?.
Apakah Lena mengidap penyakit
gangguan jiwa seperti yang tanteku
selalu bilang saat melihat aksi wanita-wanita lesbi di layar kaca? ataukah
Lena
terkena karma atas aksi ayahnya yang seorang homophobia?. Aku semakin
tak sadar berspekulasi. Syaraf-syaraf neuronku terasa semakin aktif mencari dan
mencari penjelasan lebih. Aura busukku ikut ambil bagian. Stop!.
Rasa ingin tahuku semakin beringas.
Butiran bening sempat diusap
Lena
dari kedua pipinya. Aku merasa bersalah sekan
menempatkan dia di kursi pesakitan, menghujani dia dengan pertanyaan yang
mengkoyak harga dirinya. Het spijt me, lieve
Lena
.
Bus kembali berhenti, kali ini di
halte bus depan Union Sport. Serombongan anak ABG berebutan naik ke bus. Dari
tas yang mereka sandang nampak kalau mereka habis bermain hockey.
“He, homo!” teriak seorang dari
mereka.
Entah pada siapa ditujukan kata itu.
Temannya yang lain hanya tertawa cekikikan, saling menimpali menggunakan bahasa
planet yang aku betul tidak mengerti.
Kata Pak Agus, guru antroplogiku: secara
teoritis, homoseksualitas dapat diartikan sebagai rasa tertarik secara perasaan
baik itu kasih sayang atau hubungan emosional dan secara erotik, baik secara
predominan maupun ekslusif terhadap orang-orang yang berjenis kelamin sama,
dengan atau tanpa hubungan fisik. Homo seksual lebih tepatnya mengacu pada
orang, baik laki-laki ataupun perempuan yang memakai orientasi homoseksualnya
sebagai kriteria pokok dalam mendefinisikan identitasnya atau lebih dikenal
dengan istilah gay untuk pria dan lesbi untuk wanita. Adapun
dorongan untuk mencintai sesama jenis ini ada secara alami dan terdapat di
dalam kebudayaan di seluruh dunia.
“ Saya tidak pernah mau menjadi
seorang lesbi, ini pilihanku yang paling sulit” ucap
Lena
disela-sela isapan Marlboro
merah-nya yang sudah setengah terbakar. Tatapannya menerawang jauh, entah apa
yang ia pikirkan saat itu. Aku hanya bisa mengamininya.
Bus masih terpacu pada 60km/jam.
Anak ABG tadi sudah pada turun di depan sebuah snackbar. Ahh…mungkinkah ada
diantara mereka yang lesbi? Atau mereka pun masih berjuang mencari pembenaran
jati diri?.
Lena-ku sudah merdeka sejak 3 tahun
lalu. Ia tidak lagi ‘bergerilya’ sembunyi dari gempuran suara minus
sekelilingnya yang menuntut ia segera kembali pada kodratnya. Itupun harus
dibayarnya mahal; kehilangan kontak dengan keluarganya.
Beruntung Lena, Anke hidup di
belantara Belanda; negara yang begitu menjunjung tinggi hak azasi manusia.
Mereka bisa bernafas lega karena mereka tidak sendiri. Bila suatu saat mereka
akan menikah, pun ini sudah diatur dalam undang-undang pernikahan sejenis yang
telah dilegalkan sejak April 2001 yl.
Terlepas dari sudut pandang agama, menjadi
seorang lesbi adalah hak bukan karena penyakit, kutukan, karma atau apapun itu
namanya; ini terdapat dimana saja dalam kehidupan manusia karena secara
biologis-psikologis manusia dilengkapi dengan kemampuan untuk melakukan
tindakan seks yang jauh lebih banyak macamnya daripada hanya senggama penis
dengan vagina (Dede Oetomo, 2001: 96).
Untuk menggenapi cerita
Lena
, Anke sempat memperlihatkan mata
kalung yang berbentuk kapak bermata dua.
“ Ini Labrys, symbol lesbian world”
papar Anke.
“Saya lesbi, tetapi saya punya
kekuatan dan kemandirian, that’s why I’m stil alive” celoteh Anke berapi-api.
Aku mengagumi semangat mereka, semangat
untuk tetap hidup sebagai kaum minoritas, yang menurut sebagian orang lahir
dari perpaduan sosial dan budaya. Andai kata saya di posisi
Lena
, akupun memilih sebagai lesbian.
Sebuah pilihan teramat sulit, tapi lebih baik daripada hidup tersiksa. Suka atau tidak suka, mereka adalah bagian
dari konstruksi masyarakat.
Bus ini bagaikan L world bagiku,
love dan lesbi, cinta dan
Lena
.
Homo–gay tak jauh beda dengan lesbi; gelar homoseksualitas akibat‘
penyeberangan gender
Ku pencet tombol stop di depanku.
200 meter lagi aku harus segera turun. Pantulan cahaya lampu
kota
menari-nari di atas genangan air.
Lonceng gereja balaikota telah berdentang sebelas kali. Ah, cukup lama juga
cerita
Lena
bermain di kepalaku. Aku hanya
punya satu kesimpulan: lesbi adalah sebentuk rasa yang minta untuk
dimengerti .(Alberthiene Endah, dicintai Jo).
(Lieve Lena, u’ll always be my
friend, whoever u are).